Skip to main content

PUISI UNTUK ISTRIKU



Istriku
Lusuh dastermu
Kusut rambutmu
Tampak letih gelayuti wajah manismu
Maafkan aku istriku
Yang tega berbagi nasib denganmu

Aku ingat dulu kau amat ayu
Rambutmu tergurai indah
Mempesona kan aku
Membutakan aku

Aku sadar saat itu pula
Kebodohanku menyapa
Nekat saja, aku bertanya kepada bapakmu
Sudah kah kau bersuami kala itu?

Sumringah betul aku
Kala aku tau kau masih sendiri
Kebodohanku dimulai lagi
Aku berani memintamu
Tanpa peduli sudah punya apa aku ini

Kau tersenyum sama seperti saat ini
Anggukan malumu masih teringat hingga kini

Maaf sayang, aku belum mampu memenuhi janji
Membahagiakanmu tanpa kenal henti

Bodohnya, sekarang justru aku menyakiti
Memaksamu menahan lapar ditengah lelap mimpi
Membiarkanmu tanpa polesan yang menghiasi

Betul kata orang tua dulu
Harusnya aku tunggu mapan dulu
Tak terburu oleh nafsu

Istriku, maafkan aku
Mencintaimu tanpa memikirkan esok seperti apa kita
Istriku, maafkan aku
Membiarkanmu terjerat egoku.

Karya : Ajii Pamoro 

Comments

Popular posts from this blog

CERPEN : LELAKI DI PENGUNJUNG WAKTU

Judul : Lelaki di Penghujung Waktu Di penghujung waktu; di antara detik yang berdentang syahdu, akan aku kisahkan sebuah jalan cerita ... di mana hatiku merindu. Ini tentang jarak yang menyekat temu, tak biarkan sepasang kekasih menemui titik jumpa dalam waktu dekat. Pada akhirnya, aku dan dia mulai abai akan cinta yang sebenarnya semakin tumbuh, tak kunjung pudar maupun rapuh. Bersama hari yang bergulir untuk purnama demi bulan-bulan yang bertahun, cerita ini terbangun. Sesering apa pun bibir berucap satu nama. Sekuat apa pun hati mendekap satu cinta. Seerat apa pun tangan menggenggam satu asmara, pada akhirnya semua bisa saja lepas saat Sang Maha Cinta menetapkan takdir akan sebuah kisah; berpisah atau bertahan. Apa yang diharapkan seseorang dari talian asmara? Tentu kebahagiaan tiada cela, tanpa luka berderai air mata, pun kecewa, apalagi kecup mesra bibir nestapa. Saat waktu menciptakan jarak, kala itulah jarak mempermainkan kesetiaan ... tentang tetap menunggu atau men...

Cerpen Islami Bikin Baper : Sehidup Sesurga

Judul : Sehidup Sesurga ___ "Dret ... treeng ... treeng... " Bunyi alarm tepat pukul setengah dua. Seketika aku terbangun, tanganku menggerayang mematikan bunyi alarm dengan mata yang masih merem melek. Sesaat sadarku, aku meminum segelas air putih yang sudah aku persiapkan diatas meja. Aku tersenyum, melihat anggunnya wajah istriku yang masih terlelap dalam sebuah mimpi. Aku terbiasa mencium keningnya terlebih dahulu sebelum hendak membangunkannya, agar harmonis keluarga dapat terjaga, sampai akhir tutup usia. "Dek ... adek ..." ucapku pelan "Hmmm," sahut adek yang masih merem "Adek ... bangun dek, udah jam setengah dua lho." "Apasi abaaang," jawabnya sembari membenahi bantalnya saja. "Dek, katanya mau tahajjud bareng, huft. Janji lho mau ke syurga sama-sama." Aku kembali membujuknya yang masih enggan beranjak juga. "Iya bentar eh, bentar doang. Huaaah," lanjut adek, alih-alih menguap "Yaudah abang ...

Terima Kasih Luka

Ini aku, seseorang yang dulu pernah kau abaikan. Ini aku, seseorang yang pernah meringik tangis, mengemis belas kasihan, yang setianya diduakan, dan dilupakan karena tergantikan.  Harus kuakui, kau lihai mempermainkan rasa, tak pernah aku mengira, orang sebaik dirimu adalah sumber dari luka terlama. Apa kabar masa lalu? Kuharap kau baik-baik saja tanpa seuntai kata semangat dariku. Lucu yak. Aku yang yang menjaga hati untukmu, kamu seakan menyembunyikan adanya diriku untuknya; seseorang yang lebih dariku.  Ingatkah tentang kita, dua anak desa yang bermanja dan sederhana menjalin cinta. Tak perlu dunia tahu, karena hadirmu sudah cukup untuk menjadi alasanku bahagia. Ingatkah tentang kita, dua orang yang pernah berbagi cerita, berbagi suka dan duka, berbagi tangis dan tawa. Namun, sekarang semua hanya mejadi sepenggal momori yang masih kuabadikan dalam catatan diary. Setelah kepergianmu, aku cukup mengerti arti sakitnya mencintai dengan kesungguhan hati.  Kamu t...