Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2022

Dewasa dan Pertemanan

Dewasa ini, telah mengajariku banyak hal. Terutama pertemanan, yang dulunya care, saling dukung, saling support, dan sekarang malah diam-diam menjatuhkan. Banyak orang-orang yang kurasa memang berubah. Entah faktor apa yang spontan mempengaruhi. Eits, mungkin saja bukan berubah, ada kalanya dia memang sedari dulu pura-pura peduli. Dari situ kita tahu, mana orang-orang yang harus dibawa ke masa depan, dan mana orang-orang yang tetap tinggal di masa lalu. Dan terima kasih buat teman-teman yang sampai saat ini masih bertahan dalam pertemanan. -Nuka

Terima Kasih Luka

Ini aku, seseorang yang dulu pernah kau abaikan. Ini aku, seseorang yang pernah meringik tangis, mengemis belas kasihan, yang setianya diduakan, dan dilupakan karena tergantikan.  Harus kuakui, kau lihai mempermainkan rasa, tak pernah aku mengira, orang sebaik dirimu adalah sumber dari luka terlama. Apa kabar masa lalu? Kuharap kau baik-baik saja tanpa seuntai kata semangat dariku. Lucu yak. Aku yang yang menjaga hati untukmu, kamu seakan menyembunyikan adanya diriku untuknya; seseorang yang lebih dariku.  Ingatkah tentang kita, dua anak desa yang bermanja dan sederhana menjalin cinta. Tak perlu dunia tahu, karena hadirmu sudah cukup untuk menjadi alasanku bahagia. Ingatkah tentang kita, dua orang yang pernah berbagi cerita, berbagi suka dan duka, berbagi tangis dan tawa. Namun, sekarang semua hanya mejadi sepenggal momori yang masih kuabadikan dalam catatan diary. Setelah kepergianmu, aku cukup mengerti arti sakitnya mencintai dengan kesungguhan hati.  Kamu t...

Berubah

Ingin sekali aku mengetuk dasar hatimu. Menanyakan baik-baik tentang berubahnya sikapmu. Namun, rasa takut selau saja datang menghampiri. Takut jika kamu merasa terganggu, takut jika kamu membenci, lalu lebih memilih pergi. Pernahkah berfikir? Jika aku menahan semua sakit ini, hanya karena masih ingin mempertahankan hubungan yang tak aku mengerti. Namun, semakin aku menahan, justru sesaknya semakin memenuhi ruang dada, menyiksa. Sesekali cobalah mengerti posisiku saat ini. Yang masih berharap dirimu berubah seperti dulu lagi. Aku masih di sini, masih menantimu untuk kembali menjadi seseorang yang aku kenali saat pertama kali. -Nuka

Pinjami Aku Hatimu, Mak

Mak, anakmu kini sudah dewasa. Sulitnya nyari uang sudah terasa. Susahnya nyari kerja kaya apa. Maaf yak, Mak. Mungkin dulu di masa kecilku pernah meminta tanpa memikirkan keadaan yang tak ada. Mungkin saja kata-kataku pernah tak sengaja menggores luka. Pinjami aku hatimu, Mak. Hati yang tak pernah mengeluh, meski esok harus bertaruh peluh. Hati yang selalu tabah, meski esok tak tentu harus makan apa. Pinjami aku hatimu, Mak. Agar aku bisa kuat hadapi lika-liku dunia. Agar bisa kembali tegak berdiri saat semua terasa begitu sia-sia. Diam-diam aku intip kulit yang mulai mengerut. Rambut yang mulai beruban. Dan umur yang sudah tak lagi muda. Sembari melangitkan doa, "Semoga aku bisa membahagiakanmu Mak, sebelum aku atau engkau ... tiada." -Nuka

Nangis Aja Gak Usah Ditahan

Sendiri adalah hal ternyaman untuk untuk bercerita segala rasa, lewat angin malam yang berbisik indah, lewat rembulan yang cahayanya menenangkan jiwa. Menangislah ... Karena menangis bukan berarti lemah, menangis adalah tanda bahwa masih punya perasaan. Menangis adalah ungkapan jiwa yang tertahan. Menangis adalah caranya mata berbicara, saat bibir tak dapat lagi menjelaskan hati yang terluka. Beristirahatlah dahulu, gak usah perpura-pura kuat. Tak perlu bersandiwara menjelaskan pada dunia, jika kamu mampu menahan segala beban. Untuk sementara waktu, menangislah ... Tapi ingat, esok hari harus kembali tersenyum, esok hari harus kembali lanjutkan kisah indah yang belum sempat terjamah. Karena esok ada hari-hari cerah yang telah menanti untuk kau jemput kembali. Percayalah ... Pada waktunya, kamu pun akan menyadari, bahwa luka di hari ini adalah awal dari sebuah kebangkitan. Mungkin saat itu pula, kamu pun akan tersenyum seraya berterima kasih atas luka di hari ini. Semangat y...

Ikhlas Dalam Kebaikan

Aku pikir, saat kita berbuat baik maka akan dibalas baik. Ternyata tak selalu seperti itu. Dasar kesalahannya bukan pada mereka. Namun, pada diri sendiri. Cobalah untuk ikhlas dalam setiap kebaikan, tak mengharap imbalan, juga tak mengharap pujian. Siapa peduli? Kebanyakan tak akan melirik hanya karena kamu berbuat baik. Tak mengapa jika masih dianggap munafik.  Toh, masih ada mata Tuhan yang masih menilai dengan sungguh baik -Nuka

Dariku, Si Pendengarmu

Jika kau temukan bahagia pada seseorang yang bukan aku. Berbahagialah, sebab sebagian doaku adalah bahagiamu. Jika hatimu telah terisi sosok baru. Anggaplah aku hanya sebuah lilin dari sinar mentari. Hanya menyinari celah saat duniamu tak lagi terarah. Tak apa, aku sudah terbiasa sepi. Daripada memaksa untuk saling berbalas rasa. Bukankah sedari dulu aku hanya pendengar? Tak ada lagi alasanku untuk mengikuti semua jejakmu. Pergilah ... Akan kupaksakan hari-hari tanpa ceritamu lagi. Mungkin sesekali aku akan mengenangmu, sebagai seseorang yang dulu pernah kuhapus air matanya, yang pernah aku prioritaskan senyum bahagianya. -Nuka

CERPEN : KEIKHLASAN CINTA (Romance Religi)

JUDUL : KEIKHLASAN CINTA Oleh : Nuka "Jangan terlalu mencintaiku karena aku takut Allah cemburu dan tak meridhoi kita bersatu," ucap lembutnya waktu itu. Aku mengakui memang terkesan terlalu mencintai. Karena itu, dia selalu menasihatiku untuk sewajarnya saja dalam melabuhkan rasa. Dia bernama Citra. Seorang gadis pemalu yang kutemui saat masih SMP. Aku kagum dengan akhlaknya, di saat dunia gemar memperlihatkan keindahan parasnya di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun dia justru berbeda. Citra tahu, bahwa aku mencintainya dan aku pun tahu dia mempunyai rasa yang sama. Memang dia tak pernah ungkapkan perasaannya. Namun aku begitu merasakan hangatnya kasih sayang. Kita sama mengerti jika mengikat cinta dengan pacaran dilarang oleh agama. Aku sebisa mungkin menghindarinya. Maka, jalan yang kutempuh adalah dengan mencintai dalam diam. Walaupun raga tak berpapasan namun saling menjaga perasaan, tidak berjumpa tetapi saling memantaskan. Usiaku 21 tahun. Aku belum kh...

Apa Kabar Masa Lalu

Hari ini aku menulis untukmu. Aku hanya rindu, bukan berarti ingin kembali ke masa dulu. Hanya mengenang, karena rasaku pernah teramatlah dalam. Masihkah teringat tentang aku? Tentang sebuah kisah cinta yang katanya aku satu-satunya. Masih teringat tentang setia? Yang nyatanya kau pergi begitu saja. Tentang janji? Yang kamu sendiri ingkari. Apa kabar masa lalu? Yang begitu terasa indah. Namun, berakhir pasrah. Namun, biarlah ... semua tentangmu masih tersimpan rapi, nan kujadikan inspirasi dalam ribuan bait puisi. -Nuka

Perihal Waktu

Mungkin saat ini hatimu rapuh, mungkin saat ini harimu penat dan tak bersemangat. Karena cinta yang yang terlintas indah tapi justru mematikan rasa. Akhirnya, hanya bisa merenungi segala yang terjadi, memutuskan memilih menghabiskan hari-hari dengan sendiri, sepi. Bahkan masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku tahu, sakit kali ini tak biasa. Aku tahu, kecewa telah memenuhi ruang dada. Aku percaya. Ini hanya perihal waktu. Waktu yang membawamu kembali ke arah yang lebih nyata, waktu yang akan menjawab segalanya. Nanti pada akhirnya kau akan menyadari, jika dia memang tak pantas untuk bersama orang sebaik dirimu. Ini hanya perihal waktu. Entah besok atau lusa, kau akan temukan bahagia dengan seseorang yang seharusnya kau jaga. -Nuka